Welcome to my world. Be nice here. Thank you. +Follow | Dashboard
LIFE, DREAM, ACTION



freebies



your freebies
blablabla



Different Abilities
Rabu, 04 September 2013 | 20.39 | 0 comments
Difabel adalah istilah yang sudah tidak asing dan sering kita dengar. Difabel mempunyai arti yaitu orang yang memiliki kemampuan berbeda (Different Abilities). Istilah difabel mulai muncul dan digunakan di Indonesia sekitar tahun 1998 sebagai istilah yang digunakan untuk menyebut individu yang mengalami kelainan fisik. Istilah Difable didasarkan pada realita bahwa setiap manusia diciptakan berbeda. Sehingga yang ada sebenarnya hanyalah sebuah perbedaan bukan kecacatan. Para penyandang cacat pada dasarnya dapat melakukan apa saja sebagaimana orang lain melakukan namun hanya caranya saja yang berbeda.

 Namun sayangnya, beberapa masyarakat lebih sering menggunan kata "cacat" daripada difabel atau dissabillitas. Sekilas ketiga kata tersebut memiliki arti yang sama. Namun akan terasa berbeda dalam pandangan psikologis bagi para penyandangnya dan akan menimbulkan kesan ketidaksetaraan. Untuk menghilangkan kesan diskriminasi tersebut, pemerintah mulai menetapkan UU bagi para penyandang disabilitas. "Jadi perlindungan tidak lagi sifatnya hanya memberikan sumbangan tapi lebih kepada kesetaraan hak. Mereka sama seperti orang normal" Salim Segaf Al Jufri (Menteri Sosial)

Jenis difabillitas juga bermacam-macam. Diantaranya tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, tunalaras, epilepsi, tunaganda, penderita HIV/AIDS, Gifted (Potensi kecerdasan istimewa IQ >125), dll. Penyebab difabel juga bermacam-macam. Ada orang yang difabel sejak lahir, namun ada juga yang difabel karena suatu peristiwa. Seperti bencana alam atau kecelakaan. Permasalahan yang biasa dialami penyandang yaitu masalah fisik, masalah psikologis, masalah ekonomi dan masalah keluarga. Namun yang paling berat jika sudah mengalami masalah psikologis. Karena permasalahan tersebut biasa ditandai dengan perubahan yang mendadak dan membuat seseorang merasa tidak siap untuk menerimanya. Hal ini seringkali akan membuat seseorang merubah atau menata ulang cara pandangnya terhadap diri sendiri.

Para penyandang biasanya akan mengalami depresi dan hilang kepercayaan diri jika tidak dapat mengusai dirinya sendiri dan memliki konsep diri negatif. Oleh karena itu mereka juga membutuhkan dukungan dari lingkuan sosialnya. Seperti keluarga, masyarakat dan pemerintah. Salah satu contoh bentuk dukungan sederhana dari masyrakat adalah dnegan mengikutsertakan para penyandang difabel dalam kegiatan sehari-hari dan selalu menghargai hasil kerja mereka.

Masyarakat harus berusaha menghindari bersikap negatif pada para penyandang difabel agar mereka merasa tidak memiliki keterbatasan, Namun sayangnya realita di sekitar kita menunjukkan bahwa keterbatasan itu masih ada. Contohnya dalam berlalu lintas, perbedaan jenis pendidikan, perbedaan fasilitas publik dan keterbatasan lapangan kerja.

Namun sekarang, para penyandang difabel mulai dihargai. Seringkali saya melihat orang yang memberikan tempat duduknya untuk para penyandang difabel di Busway serta para petugas yang siap menuntun mereka ke tempat yang nyaman. Mulai muncul juga beberapa atlet di cabang olahraga paralympic yang berprestasi dan diakui dunia Internasional. Semoga seiring berkembangnya jaman, pandangan masyarakat terhadap para penyandang difabel juga mulai berkembang sehingga mereka mulai diterima di lingkungan sosialnya tanpa perlu merasa minder.


Older Post | Newer Post